JHON DUMUPA

Minggu, 19 April 2015

PUISI: SURAT UNTUK IBU DI DAPUWAMO



=============PUISI: SURAT UNTUK IBU DI DAPUWAMO==============
koya ebaitai

Pada pos selanjutnya ini, saya menulis sebuah puisi kontemporer, yang berjudul Surat Untuk Ibu di Desa. Puisi ini menceritakan tentang seorang anak merantau ke kota dan meninggalkan orang tuanya didesa yang ia sayangi, terutama Ibunya.  Begitulah cerita singkat dari saya, selamat membaca sebuah karya saya ini, semoga bermanfaat dan semoga menginspirasi anda untuk terus menyayangi dan mendo’akan kedua orangtua kita. Oo iya, jangan lupa dikomentari ya?? Supaya saya lebih baik kedepannya. Terimakasih!

 UNTUK MAMA DI DAPUWAMO

Untuk Ibu didapuwa
Ibu yang ku sayangi...ku..sayangai
Ibu yang ku keluhkan kepada Tuhan, karena begitu merindunya
Ingin dikau berada didekat ku selalu
Melihat suka duka di Negri orang yang kejam ini
Ibu yang ku cintai...
Ku coretkan seuntaian kata rindu untuknya
Membayangkan wajah cantiknya yang kini mulai mengkerut
Mengingat pengorbanannya,
Yang tak terbayar bongkahan emas sekalipun
Yang tak pernah terulang waktu
Hanya sejarah yang mampu membongkarnya,
Kemudian mengulangnya
kembali...

Bidadari terindah...Ibu!
Ku ambil pena terakhirku
Ku rangkaikan kata-kata paling indah
Untukku hantarkan kepada mu nan jauh didesa
Dan ku coret dikertas dengn huruf lebih besar dari biasanya
Karena aku tahu,
Polesan mata mu yang dulu setia mengawasiku, seakan tak mau aku terluka sedikitpun
Kini, nampaknya terlihat mulai kabur. Benarkah Ibu?
Malaikat duniaku...Ibu!
Aku tak tahu...
Di dDapuwamo, ada yang mengawasimu ketika engkau sakit
Aku teringat Ibu...
Engkau tidak pernah tidur untuk menjaga dari sakitku,
Hingga aku lekas sembuh menghadapi runcingnya dunia

Dan di kota persinggahan ku ini
Aku tak bisa langsung mengawasi mu, menyuapi mu, menjagamu!
Memberikan perhatian terbaikku untuk mu,
Meski itu semua tak pernah terbalas dengan perhatian mu yang dulu luar biasa

Ibu...maafkan aku!
Ketika tingkah laku nakal ku membuat air mata mu selalu membasahi relung jiwa
Atau mungkin kekecewaan mu atas sikapku yang menantang mu
Atau mungkin juga kata-kata yang tak sepantasnya  aku ucapkan
Sering menyakitkanmu, dan tak jarang meneteskan air mata mu lagi dan lagi!

Ibu yang ku sayangi...
Aku tak ingin tetesan air mata mu terulang karena tingkah nakal ku
Ibu yang ku rindui...
Sisakan air mata mu untuk menangis bahagia
Ketika aku pulang ke desa, dengan gelar sarjana...
Tenang saja Ibu....
Usaha mu menyekolahkan ku hingga saat ini tidak sia-sia kok.

Ibu yang ku sayangi, titip salam, hormat dan rinduku untuk kak tercinta yang perkasa!
Sampaikan jangan terlalu menghawatirkan kondisi ku di Negri orang  ini
Aku baik-baik saja Ibu!
Karena, do’a kalian selalu mengalir di nadi mu untukku. Benarkan Ibu?

Ibu yang ku sayangi...
Ibu yang ku cintai...
Ibu yang rindui...
Surat ini untuk Ibu.

KOYA EBATAI. UGATAME EKADUBATAI.