=============PUISI: SURAT UNTUK IBU DI DAPUWAMO==============
koya ebaitai
Pada pos selanjutnya ini, saya menulis sebuah puisi
kontemporer, yang berjudul Surat Untuk Ibu di Desa. Puisi ini menceritakan
tentang seorang anak merantau ke kota dan meninggalkan orang tuanya didesa yang
ia sayangi, terutama Ibunya. Begitulah
cerita singkat dari saya, selamat membaca sebuah karya saya ini, semoga
bermanfaat dan semoga menginspirasi anda untuk terus menyayangi dan mendo’akan
kedua orangtua kita. Oo iya, jangan lupa dikomentari ya?? Supaya saya lebih
baik kedepannya. Terimakasih!
UNTUK MAMA DI DAPUWAMO
Untuk Ibu didapuwa
Ibu yang ku sayangi...ku..sayangai
Ibu yang ku
keluhkan kepada Tuhan, karena begitu merindunya
Ingin dikau
berada didekat ku selalu
Melihat suka
duka di Negri orang yang kejam ini
Ibu yang ku
cintai...
Ku coretkan
seuntaian kata rindu untuknya
Membayangkan
wajah cantiknya yang kini mulai mengkerut
Mengingat
pengorbanannya,
Yang tak
terbayar bongkahan emas sekalipun
Yang tak
pernah terulang waktu
Hanya
sejarah yang mampu membongkarnya,
Kemudian
mengulangnya
Bidadari
terindah...Ibu!
Ku ambil
pena terakhirku
Ku rangkaikan
kata-kata paling indah
Untukku
hantarkan kepada mu nan jauh didesa
Dan ku coret
dikertas dengn huruf lebih besar dari biasanya
Karena aku
tahu,
Polesan mata
mu yang dulu setia mengawasiku, seakan tak mau aku terluka sedikitpun
Kini,
nampaknya terlihat mulai kabur. Benarkah Ibu?
Malaikat
duniaku...Ibu!
Aku tak
tahu...
Di dDapuwamo,
ada yang mengawasimu ketika engkau sakit
Aku teringat
Ibu...
Engkau tidak
pernah tidur untuk menjaga dari sakitku,
Hingga aku
lekas sembuh menghadapi runcingnya dunia
Dan di kota
persinggahan ku ini
Aku tak bisa
langsung mengawasi mu, menyuapi mu, menjagamu!
Memberikan
perhatian terbaikku untuk mu,
Meski itu
semua tak pernah terbalas dengan perhatian mu yang dulu luar biasa
Ibu...maafkan
aku!
Ketika
tingkah laku nakal ku membuat air mata mu selalu membasahi relung jiwa
Atau mungkin
kekecewaan mu atas sikapku yang menantang mu
Atau mungkin
juga kata-kata yang tak sepantasnya aku
ucapkan
Sering
menyakitkanmu, dan tak jarang meneteskan air mata mu lagi dan lagi!
Ibu yang ku
sayangi...
Aku tak
ingin tetesan air mata mu terulang karena tingkah nakal ku
Ibu yang ku
rindui...
Sisakan air
mata mu untuk menangis bahagia
Ketika aku
pulang ke desa, dengan gelar sarjana...
Tenang saja
Ibu....
Usaha mu
menyekolahkan ku hingga saat ini tidak sia-sia kok.
Ibu yang ku
sayangi, titip salam, hormat dan rinduku untuk kak tercinta yang perkasa!
Sampaikan
jangan terlalu menghawatirkan kondisi ku di Negri orang ini
Aku
baik-baik saja Ibu!
Karena, do’a
kalian selalu mengalir di nadi mu untukku. Benarkan Ibu?
Ibu yang ku
sayangi...
Ibu yang ku
cintai...
Ibu yang
rindui...
Surat ini
untuk Ibu.